Keanekaragaman hayati (*biodiversity*) mencakup keanekaragaman gen, spesies, dan ekosistem di bumi. Pola persebaran flora dan fauna di permukaan bumi dipengaruhi oleh faktor klimatik (suhu, curah hujan, kelembapan, angin), faktor edafik (kesuburan tanah, tekstur, pH), faktor fisiografis (ketinggian dan kemiringan lereng), serta faktor biotik (peran manusia dan hewan).
Di tingkat global, biosfer terbagi ke dalam bioma daratan utama: dari bioma Tundra lumut di lingkar kutub beku, Taiga konifer beriklim boreal, Hutan Hujan Tropis yang memiliki stratifikasi kanopi rapat dan megabiodiversitas, Sabana padang rumput bersemak, Stepa, hingga Gurun pasir xerofit.
Indonesia memiliki keunikan biogeografi yang terbagi menjadi tiga zona faunistik: Zona Asiatis/Dangkalan Sunda (mamalia besar seperti gajah, harimau, badak), Zona Peralihan/Wallacea (fauna endemik langka seperti anoa, komodo, babirusa, burung maleo), dan Zona Australis/Dangkalan Sahul (hewan berkantung kuskus, kanguru pohon, cendrawasih). Upaya pelestarian dilakukan melalui cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional.
- Bioma
- Ekosistem daratan berskala regional luas yang dicirikan oleh tipe vegetasi klimaks dominan dan hewan yang beradaptasi dengan kondisi iklim tertentu.
- Garis Wallace
- Garis khayal biogeografi yang memisahkan wilayah fauna tipe Asiatis (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali) dengan wilayah fauna tipe Peralihan (Sulawesi, Nusa Tenggara).
- Garis Weber
- Garis batas biogeografi yang memisahkan wilayah fauna tipe Peralihan dengan wilayah fauna tipe Australis (Papua dan Maluku).
- Kawasan Wallacea
- Zona biogeografi unik di Indonesia bagian tengah yang kaya akan spesies fauna endemik yang tidak ditemukan di belahan bumi lain.
- Konservasi In-Situ
- Metode pelestarian keanekaragaman hayati flora dan fauna di dalam habitat alami aslinya (contoh: Taman Nasional Ujung Kulon).
Tidak ada bahan ajar yang cocok dengan kriteria pencarian.